Siluet Hidup


Hidup terasa indah justru ketika kita mampu keluar dari permainan yang penuh dengan resiko sebagai pemenang
Memanfaatkan waktu dan menikmatinya akan mendorong sang pemberani untuk tampil kemuka...apapun resikonya
Tidak ada satu gerakpun dimuka bumi ini tanpa resiko
Mereka yang mencoba menghindari resiko adalah manusia pengecut yang yang melawan fitrah alamiah

You will grow to love the wordly life and hate death







Sabtu, 31 Desember 2011

Siluet Hidup: Jiwa Ditengah Malam

Siluet Hidup: Jiwa Ditengah Malam: Pandanglah hamparan sawah padi yang menghijau. Padi yang tertiup oleh semilir angin. Petani yang menabur benih dengan harapan a...

MY WORD IN NEW YEAR

Suara terompet seolah sangkakala menjemput kematian
Pergantian jiwa telah dilakukan
Hingar-bingar lebih seperti ucapacara pemakaman
transaksi tukar zaman dengan harapan
Kembang api menjadi hiasan
Baru saja pergantian tahta tahun dupacarakan


Akan bagaimanakah jiwa manusia menggiring awan ?
Mungkin itu yang patut dipertanyakan.....
Sebenarnya saya akan merasa lebih baik jika dalam hidupku ini tdk ada harapan.Karena dengan tidak adanya harapan maka saya tidak akan membuat orang lain untuk terbebani dalam membantu menggapai harapan tersebut. Sebuah persepsi salah bukan..? sebenarnya setiap orang tua akan merasa terbebani dalam membantu anak-anaknya dalam menggapai impian,sahabat tidak akan merasa terbebani dalam membantu untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi, dan lain sebagainya.Tetapi sudah sifatku yang selalu merasa berhutang budi terhadap semua kebaikan yang telah diberikan kepadaku.
Jika dipaksakan untuk membuat sebuah harapan,maka harapanku cuma ada satu,yaitu menjadi orang yang berhasil baik dari segi materi ataupun rohani.Dengan harapan seperti ini,maka dapat menggapai semua impian yang saat ini masih belum sanggup untuk diwujudkan.....
*)Membahagiakan orang tua
Orang tua mencari nafkah siang dan malam demi anak-anaknya tanpa pamrih walaupun tubuhnya sudah renta.Hal ini benar-benar membuatku ingin menangis ketika mengingatnya.Ingin rasanya untuk menanggung beban itu,namun apa daya diriku masih belum mampu.Saat kita bertanya kepada mereka " Bapak,Ibu Bagaimana kabar kalian ? sehat-sehat saja kan...? sebuah kalimat pendek dan hanya butuh beberapa detik untuk mengucapkannya.Tetapi bagi orang tua yang mendengar kalimat tersebut diucapkan dari mulut anaknya,akan selalu terngiang ditelinga mereka dan memberikan kebahagiaan yang tiada tara dihatinya.Namun bagiku ini tidak cukup,dengan menjadi orang yang berhasil tentunya saya dapat mengambil alih semua beban yang ditanggung mereka,agar mereka dapat menjalani hidup tanpa beban apapun baik beban materi maupun rohani.

*)Memberi sesuatu yang berarti lebih untuk para sahabatku
Yuppppppppp....Sobatku.Begitu besar arti dari apa yang telah mereka berikan kepadaku.Ketika aku mengalami kesulitan materi,mereka selalu datang mengatasi masalah ini.Ketika aku terpuruk,mereka datang untuk memberikan dukungan dan menarik tanganku keluar dari jurang keterpurukan itu.Ketika aku merasakan kesendirian,mereka mengajak berkumpul untuk mengobati lelah hati.

Doaku untuk tahun yang akan datang adalah " Semoga  tubuhku tidak hancur " Doa yang aneh ya..he..he..he...ya...



Jiwa Ditengah Malam



        Pandanglah hamparan sawah padi yang menghijau. Padi yang tertiup oleh semilir angin. Petani yang menabur benih dengan harapan akan tumbuh subur dan memberi hasil yang banyak.

Ketika hari telah petang. Matahari akan masuk ke peraduannya. Lihatlah kaki langit, di sana kita akan melihat rona merah tanda matahari tanda awal senja.
Berjalanlah dengan kaki yang diciptakan oleh Allah. Sampai bila kita sampai ke tepi sungai, renungkan betul-betul airnya yang jernih, yang mengalir entah sejak kapan. Ketika airnya mengalir di celah-celah batu dan masuk ke lopak-lopak dibawahnya. Terus mengalir ke laut.

Di sana, ikan-ikan bermain memakan lumut. Ikan-ikan itu tidak pernah tahu sama sekali ada dunia lain yang dinamakan daratan.

Di malam hari, di kala manusia telah memejamkan mata, dan seluruh binatang ternak telah masuk kandangnya masing-masing. Yang tinggal hanya suara jangkrik sedang berzikir. Cobalah bangun dari pembaringan. Keluar dari rumah kita dan lihatlah langit. Kita akan lihat bintang-bintang gemerlap di sana sini. Ada tumpukan awan yang berarak perlahan. Bulan pun seperti menyungging senyum manisnya kepada malam yang gulita.

Kumpulkan semua ingatan kita terhadap segala tindak-tanduk sepanjang siang hari tadi. Ridhakah Allah kepada kita atau durhakakah kita kepada Allah? Pejam mata dan ingatlah siapa diri kita. Bandingkanlah diri kita dengan alam ciptaan Allah. Diri kitakah yang besar atau dunia tempat berpijak ini lebih besar? Kalau nyata alam ini lebih besar dari diri kita, maka sadarilah bahwa dirimu sangat kerdil, Allah-lah Yang Maha Agung.

Lantunkanlah do’a perlahan di dalam hati. Mohonkan kekuatan dari-Nya untuk diri kita yang lemah dan tak memiliki kekuatan atau daya apapun, kecuali bila Allah yang memberikannya. Tanamkan kuat-kuat dalam hati, bahwa kita mutlak membutuhkan bantuan Allah. Dan karenanya, kita tak boleh sedetikpun menjauh dari-Nya

Kamis, 29 Desember 2011

Meraup Balung Pisah


Hendrawan dan Budi
M.Huda
Atrojib.N
Linda.c & RR Wiyawati
Hendra & Budi & Atrojib
Sigit.R
Heri.s
Iwan & Istri
Triyani & Anak
Budi
Adab.W
Yunita
Agung
R.Agus & Keluarga
Sulis & Keluarga
Ritri.P
RR.Retno.W
Joko Kinthil
Adiyanto.S
Winengku.D.J

Sudah 14 tahun kami terpisah, teringat saat-saat masa dulu.hmmmm……berbagi kisah dengan sesama amatlah berguna dalam kehidupan kita meskipun lama tak jumpa.berbagi kebahagiaan akan menambah besarnya kebahagiaan yang kita alami. tetapi berbagi masalah dan kepedihan juga akan mengurangi beban di hati.masa lalu terkadang indah, tapi terkadang tidak pantas untuk diingat. Masa lalu yg indah, layak dikenang, tapi ia tetaplah masa lalu. masa lalu……….hmmmmmmmm…ketika kita mungkin pernah diperlakukan tdk baik atau berbuat kesalahan….memang ada dalam ingatan, tapi….sem[audio:http://odaybusle.blog.com/files/2011/12/PL-hello.mp3|titles=PL- hello]uanya sudah berlalu, biarkan saja.kita tidak bisa terus menerus berkubang dalam masa lalu, karena hidup adalah hari ini, yg kemarin sudah berlalu, dan hari esok masih sebatas mimpi. lepaslah semua dengan……Mengubah Kenangan Negatif menjadi sesuatu yang bernilai positif….ayo kawan-kawan kita pikirkan lagi, apakah memang apa yg kita alami dimasa lalu adalah sesuatu yg begitu buruk ? jangan-jangan kesalahan dimasa lalu itulah yang merupakan permata berharga dalam hidup kita. Siapa tahu dengannya kita akhirnya tahu bahwa kita tidak boleh melakukan hal itu lagi.
he..he..he..kita sering berkubang dalam masa lalu justru karena kita merasa nyaman berada disana.mencoba untuk keluar dari zona nyaman itu, mencoba mencari lingkungan baru, dan rekan baru but tidak melupakan teman kita yang telah lama tak bertemu.
kalau kita merasa bersalah , yuk coba kita tengok kembali kejadiannya dengan lebih bijak. apakah semua memang karena salah kita ? ataukah orang lain yang memanfaatkan kita atau justru kondisi yg mengajak kita….yah sekedar contemplate..semoga tulang yang berserakan bisa kita kumpulkan kembali meskipun tak semua bisa terkumpul….
” SAHABAT ADALAH TEMPAT MENGUTARAKAN ISI HATI KITA DAN SAHABAT ITU ADALAH YG MAU MENDENGARKAN KELUHAN KITA TANPA MELIHAT KONDISI DAN SIAPA KITA, SAAT KITA JATUH DIA MENARIK TANGAN KITA, SAAT SOMBONG DIA MENEGUR KITA DAN SAAT TERPISAH DIA TETAP MENCARI DAN MENCOBA UNTUK BERKUMPUL KEMBALI “

Senin, 26 Desember 2011

Bapakku Bicara

Anakku,
    Cinta tidak buta melainkan hanya melihat apa yang berarti
hmmmmmmmmm...................... belum lepas ingatan ayah,ketika suaramunyaring lepas dari rahim ibumu.Ketika langkah-lanhkah tertatih,engkau memburu rindu kemudian berbaring manja dipelukan ibumu.Berceloteh memilih kata yang lucu,dan sesekali mengadu dengan iringan tangismu.alangkah cepatnya waktu berlalu.satu persatu rumah ini ditinggal penghuninya.Kakak-kakamu berangkat untuk menguji dirinya memenuhi panggilan syariat agama.
     Tinggal dirimu yang ayah nanti untuk mengarungi biduk indahnya dunia.Ayah tidak memaksa kapan akan kau penuhi janjimu melengkapi separuh surga dunia.
Jangan pernah kau tengok kebelakang jangan kau tengok pula pantai gersang yang ada dibelakangmu.karena didepan sana,yahhh didepan sana dimana biduk mengarah,terhampar pantai harapan.Bakar dan hanguskan masa lalumu.lumat dan campakkan segala jerat nafsu yang merayu untuk tetap menoleh kebelakang.
Nak.....
     jangan kau ragu untuk merengkuh samudra luas.karena dengan iman kau kayuh bidukmu,dan dengan ilmu akan engkau rengkuh samudra lepas.Rengkuhlah tujuan dan tinggalkan tempat bertolak.
Aku terdiam.apa yang harus aku jawab? kalau aku berkata belum,pastia dia kecewa.Kalau aku berkata sudah,berarti aku telah berdusta.
kupandang raut wajahku
menembus segala ceritra masa lalu dan segala cita yang belum lagi mau terwujud
album lama aku buka,dan setiap gambar bercerita
bukan bernostalgia,tetapi betapa jiwaku terpana
waktu telah memburu dan mengukir hidup tanpa rencana
lama batinku mengharap jumpa
dengan Engkau wahai kekasih abadi
telah lupa apa makna doa
telah habis untaian kata
untuk mewujud dalam harap
kian kusebut kian tak berarti

seharusnya aku lama mencari arti
tapi ruang dadaku selalu penuh
jelaga kehidupan
menutup cahaya jiwaku
lama batinku menangis
meratapi harapan jumpa
dengan Engkau Wahai Kekasih Pasti
Kalau ada waktuku
ingin cangkir jiwa tumpah dan kosong
wajah dancintamu kekasih
biarlah menutupi seluruh piala jiwaku
  
pesan Bapak dan doa Bapak

     Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Tuhanku,

aku mohon supaya putraku jangan dipimpin di atas jalan yang mudah dan lunak
tapi di bawah tekanan dan desakan, kesulitan dan tantangan
didiklah putraku supaya teguh berdiri diatas badai
serta berbelas kasihan kepada mereka yang gagal

bentuklah putraku menjadi manusia yang hatinya jernih, yang cita-citanya tinggi
putra yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain
putra yang menjangkau hari depan namun tak melupakan yang lampau

dan setelah itu menjadi miliknya
Aku mohon putraku juga diberi perasaan jenaka, supaya ia bisa serius
tanpa menganggap dirinya terlampau serius
beri juga ia kerendahan hati  
supaya ia ingat kepada kesederhanaan dan keagungan asli
Terima kasih Bapak
Ayah aku tak mampu melukis
gambaran dirimu
maafkanlah..!

Minggu, 25 Desember 2011

Jati Diriku

     Lebih dari separuh hayatku hanya  berlandaskan rasio atau logika,menutup diri dari segala gejolak emosi,sesuatu  yang bagiku hanya memperlemah eksistensiku didunia nyata.Hingga sampailah diriku pada titik nadir perikehidupan,saat-saat aku ingin membuak diri,walau hanya melalui curahan hati.
Kurang cepat mengambil keputusan adalah kelemahan saya.Saya perlu berpikir panjang untuk mengambil keputusan meskipun menurut banyak orang itu baik.Sering kali saya sulit untuk mengambil keputusan yang harus saya pilih.Meskipun alasannya tidak  selalu terlihat dengan jelas,tetapi tetap ada alasan tertentu dibaliknya.Saya juga kadang terikat ego dan persepsi saya terhadap suatu kejadian sehingga menghalangi saya untuk mengerti alasan sebenarnya mengapa hal  itu bisa terjadi.
      Ketika saya mendengar kata keberanian,saya berpikir mengenai para prajurit yang siap mempertaruhkan nyawa mereka di medan perang.Namun,kemudian saya kembali pada kehidupan sehari-hari dan keberanian yang dibutuhkan untuk bangun dan menghadapi hari.Hidup adalah peperangan yang harus dihadapi oleh semua orang. Saya tidak pernah bertemu orang yang ingin menukarkan penderitaan dengan orang lain,bahkan ketika mereka tidak ada orang yang lebih menderita dari mereka. Satu-satunya pilihan yang saya miliki adalah berani menghadapi setiap masalah dan terus       hidup.Banyak orang yang memilih mati demi mengakhiri semuanya.Saya memilih untuk tetap hidup dengan segala kesakitannya,air mata, dan kehilangan ,serta ingin memiliki pengalaman  semua itu.Itulah kelebihan dari saya.
Yang mensuport kehidupan saya adalah yang pertama Tuhan.Keluarga ,sahabat dan kegagalan sebagai landasan untuk bangkit kembali.Saya tidak percaya bahwa kekacauan yang terjadi adalah bukti bahwa Tuhan tidak ada.Seorang manusia yang ingin bertahan hidup menurut saya harus siap terhadap perubahan. Saya percaya ada sebuah kecerdasan,energy, dan kesadaran dibalik semua peristiwa yang terjadi di kehidupan.Tuhan adalah perenacana yang hebat.Dia menciptakan dinamika kehidupan yang kompleks dan mempersiapka saya untuk terus berubah dengan cara menghadapi kekacauan yang terjadi..Jika saya hanya dipersiapkan untuk menjalani hal-hal yang sama setiap hari,Perubahan sekecil apapun dapat menghancurkan saya.Semua yang terjadi dalam hidup saya sudah diperhitungkan dengan matang sesuai kemampuan manusia.Dan yang bisa membuat bangkit saya adalah saya sendiri.
Mundur sejenak untuk maju kedepan itu mungkin salah satu kunci yang harus saya pegang. Terkadang seseorang harus mundur,melakukan perenungan, dan instropeksi diri demi memahami masalah serta mendapatkan solusi. Mundur dan merenung menurut saya bukan berarti lari dari masalah, melainkan bertujuan untuk menghadapinya dan mengubah sesuatu yang saya pikir dapat mengancam kebahagiann.Mundur sejenak untuk memperkuat diri sendiri adalah satu langkah maju dan tindakan keberanian.
      Prinsip hidup untuk kesuksesan saya.Perlu mempelajari prinsip hidup sukses,baik itu didunia bisnis atau kehidupan sehari-hari. Ketika saya membaca kisah-kisah orang sukses,nasihat yang sama selalu muncul,jadilah orang gigih,cari bantuan,tentukan impian , dan ikuti jalannya.Yakin bahwa ini berguna bagi saya dan orang lain serta sadari bahwa usia saya terbatas. Jika mengikuti prinsip, saya dapat melihat hidup yang tumbuh berkembang. Jadi orang yang gigih dan percaya diri sehingga semua akan mendukung saya.
Mimpi adalah visi. Itu menurut saya. Semua orang harus bermimpi. Mimpi adalah bahasa universal dan satu-satunya cara bagi masa depan untuk dapat mengekspresikan diri saya. Bila saya berhenti bermimpi dan berhenti menyadari impian, saya menutup pintu untuk kebenaran dan potensi hidup saya. Harapan dan mimpi adalah konsep yang terpisah. Harapan adalah kesadaran yang mungkin atau tidak mungkin terwujud. Mimpi adalah sebuah visi tentang sesuatu yang bisa terwujud. Saya yakin jika fokus pada visi untuk membuat perubahan dalam hidup, baik sadar dan bawah sadar, hal ini saya yakin dapat membuat impian menjadi kenyataan. Ketika saya berhenti bermimpi, saya akan kehilangan makna hidup. Bahkan jika mimpi saya tidak pernah terkabul, saya tidak akan menyesal telah bermimpi.Seperti yang dikatakan oleh Don Quixote,”Memimpikan hal-hal yang mustahil” adalah hal terbaik yg bisa dilakukan seseorang.Itu salah satu kalimat yg tidak bisa saya lupakan untuk bisa tetap berdiri.


Sabtu, 24 Desember 2011

Sabar Tersimpul Dihatimu

Selalu, saya akan tenggelam dalam luasnya danau di keriput garis mata wanita itu; garis yang berkisah tentang kesabaran, perjuangan hidup, penderitaan dan pengorbanan serta maaf. Menelusuri peta yang ada di wajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuah kota bernama: keikhlasan.

Kali ini, saya berusaha menyusun kepingan kesabaran dan danau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkan air mata saya pada akhir Februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri.

Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagian disebabkan perjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampir selalu mabuk dalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilangan jam.

“Mbah...!” suaranya bergetar saat berada di ambang pintu. Nanap, ia menatap sesosok tubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang; infus, bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan....

Laki-laki yang tergolek itu membalas tatapnya, menahan sejenak, lantas pelan-pelan dialihkan ke tempat lain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada.

“Bagaimana, Mbah?” kembali sapa wanita itu seraya mendekat dan meraba kening si lelaki. “Yang sakit bagian mana?” lanjutnya. Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ke telinganya.

Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh.

Lemah, tangan kiri si lelaki berusaha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan mata menghindari bertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dan tangis yang enggan dipurnakan.

-----

Wanita itu tak lain adalah bekas istri dari lelaki yang kini tergolek tersebut. Lebih dua puluh tahun sudah keduanya berpisah.

Sangat sah bagi si wanita itu apabila ia membenci bekas suaminya. Begitu banyak luka menganga yang ditinggalkan lelaki itu dalam perjalanan hidup yang ia alami.

Sebelum resmi berpisah, suaminya menelantarkan dirinya berikut anak-anaknya. Suaminya lantas menikah dengan wanita lain, memenuhi istri mudanya dengan kekayaan dan kebahagian, sedangkan wanita ini terlunta-lunta memperjuangkan hidup yang ingin ia menangkan.

Ya, nyaris tak ada apa pun yang diberikan suaminya selain penderitaan. Ia bukan resmi dicerai di PA, karena itu ia masih menjadi istri jika sewaktu-waktu suaminya pulang atau bertandang. Selalu tak ada apa-apa yang di bawa lelaki itu selain perselisihan atau kekesalan pada istri mudanya dan si wanita akan menerimanya dengan sabar.

Tapi, selalu begitu, setelah ia kembali mengandung, suaminya akan segera pergi kembali pada istri mudanya, dan kembalilah ia berjuang terlunta-lunta dengan janin dalam kandungan. Tercatatlah, sembilan anak terlahir dari rahimnya, seorang di antaranya meninggal karena kekurangan air susu. Asinya tidak keluar oleh karena nyaris tak ada makanan layak yang ia konsumsi.

Di lain waktu, pernah selama beberapa minggu ia -berikut anak-anaknya-tidak makan nasi. Tidak ada beras tersisa. Kendati suaminya hidup berkecukupan bahkan boleh dibilang kaya, -- saat itu, suaminya menjabat kepala desa-ia tak hendak meminta, apalagi menuntut. Untuk bertahan hidup, ia dan anak-anaknya memakan daun-daunan yang direbus dengan campuran sedikit beras hasil utang. Jika waktu makan tiba, ia kumpulkan anak-anak, duduk melingkar memutari kuali tanah berisi bubur daun-daunan tersebut dengan masing-masing memegang satu piring. Lantas, pada piring masing-masing dituang bubur encer terebut. Sungguh jauh dari cukup, apalagi rasa kenyang. Sementara... suami dan istri mudanya sekaligus anak-anak mereka makan dengan kenyang dan berlebihan.

Jika malam tiba, gubuk reot yang ia huni itu penuh rebak dengan cerita. Wanita ini gemar sekali mendongeng untuk anak-anaknya; satu-satunya hiburan yang bisa ia berikan pada anak-anak. Dengan sebuah lentera kecil yang berkedip-kedip ditiup angin, ia mendongeng Timun Mas, Kepel, Lutung Kasarung, Roro Mendut-Pronocitro, Minakjinggo-Kenconowungu, dan sekian lagi dongeng yang ia kreasi sendiri. Anak-anaknya mendengarkan dengan mata berbinar-binar. Kadang-kadang pula ia mengajarkan tembang-tembang dolanan yang menjadi senandung riang pembawa semangat anak-anaknya. Sambil bercerita itu, tangannya tak henti bekerja, kadang-kadang sampai larut malam; menganyam tikar pandan pesanan tetangga, mengupas singkong, oncek dhele, prithil kacang, pipik jagung... pekerjaan-pekarjaan khas para petani yang darinya ia peroleh upah tak seberapa.

Lantas, sementara ia terus mendongeng, satu per satu anak-anaknya terlelap di atas tikar yang berlubang dan bertambal-tambal di sana-sini. Setelah anak-anaknya tertidur, serentak, wajahnya yang semula berbinar-binar tanpa duka itu meredup. Ia menatap anak-anaknya yang tidur dengan mulut menganga dan perut berkeriut. Napasnya cekat. Tanpa permisi, air mata berbondong-bondong keluar oleh tindihan rasa nelangsa. Ya... di saat yang sama, suami dan istri mudanya berikut anak-anak mereka terlelap di atas kasur dengan selimut hangat dan perut kekenyangan.

Baginya, duka itu adalah miliknya sendiri. Jangan sampai memberi anak linangan air mata. Jangan sampai ia berikan duka.

Dirinya masih harus merunut malam yang jauh. Dia tak berpikir akan bertahan hidup, tapi ia tak akan mengakhiri sendiri dengan bodoh; kendati sebenarnya itu pernah terlintas dalam benaknya.

“Saya tak percaya saya masih hidup sampai hari ini,” ujarnya bertahun-tahun setelah itu. Yang ada dalam pikirannya adalah 'hidup dan bertahan'. Ia harus menyelesaikan semua itu dengan cara-cara pahlawan.

Dengan menjadi buruh tani, ia terus mengais. Pekerjaan itu nyaris tak menjanjikan apa-apa. Tak jarang, ia bekerja di sawah suaminya sendiri sebagai buruh dengan upah yang tidak lebih besar dari buruh yang lain, bahkan cenderung lebih kecil. Entah, bagaimana ia mampu menjalani semua itu.

Lantas, satu per satu anaknya lulus sekolah. Yang pertama menyelesaikan SMP, yang kedua bertahan hanya sampai SD, sedangkan yang ketiga tak mampu menyelesaikan pendidikan terendah sekalipun kendati justru ia anak paling cerdas di antara anak-anaknya yang lain. Bersama, ketiga anak ini memutuskan merantau ke Jakarta. Tentu saja tak begitu ada harapan bekerja di tempat yang nyaman. Ketiganya... menjadi pembantu. Tapi, kendati sedikit, ketiganya mulai bisa mengirim uang untuk orang tua dan adik-adiknya.

Begitulah, wanita ini telah mengatur rupiah dengan begitu cermat. Ia bahkan tak menyentuh uang-uang kriiman itu, tapi kesemuanya digunakan untuk membiayai sekolah lima anaknya yang lain. Cukup ajaib, kelima anaknya tersebut berhasil menamatkan jenjang SLTA.

Hari-hari lesap ke bulan dan bulan tenggelam dalam tahun. Seperti hidupnya, waktu tidak berhenti berjalan. Satu per satu anaknya lulus, bekerja ... dan menikah. Biaya sekolah tidak melulu ditanggung anak pertama, tetapi selalu demikian... setiap ada yang lulus dan mulai bekerja, ia bertugas melanjutkan estafet amanah itu.

Lagi-lagi, keajaiban dan bukti bahwa Allah Mahakasih, empat dari anak-anaknya tersebut lulus tes menjadi pegawai negeri sipil, sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi untuk ukuran daerahnya. Saat sekolah pun, rata-rata mereka mendapat beasiswa atau keringanan biaya sebagai kompensasi dari prestasi yang diraih... atau minimal menjadi juara kelas. Namanya pun menjadi legenda di masyarakatnya bahwa anak-anaknya maupun cucu-cucunya pasti cerdas dan sukses.

Bolehlah dikatakan begitu. Untuk ukuran orang seperti dirinya, tentulah apa yang ada sekarang ini merupakan sukses yang tidak terbilang. Masing-masing anaknya di Jakarta telah memiliki hunian yang layak -kendati kecil--, anak pertamanya malah berhasil masuk tes PNS di Mabes Polri kendati hanya dengan ijazah SMP. Anak-anaknya pun nyaris semua cukup disegani di lingkungannya, hal mana tidak demikian dengan anak-anak suaminya dari istri mudanya.

rumah yang ia huni yang dibangun anak-anaknya pada tahun 1988, ambruk. Kondisinya memang telah reot. Anak-anaknya bukan tidak tahu, tapi mereka tidak memperbaikinya dalam kurun yang cukup lama itu disebabkan mereka dilarang oleh sang ayah -suami dari wanita ini-untuk memperbaiki.

Laki-laki itu mungkin hatinya terbuat dari batu, tak juga bisa belajar dari kejadian-kejadian yang ia alami. Tahun 1988, saat anak terakhir dari istrinya berusia 10 tahun, ia kembali terpikat wanita lain; seorang janda muda dari kampung sebelah. Karena tak bisa menikah resmi, keduanya -entahlah, mungkin nikah di bawah tangan-tinggal serumah.

Kali ini, wanitanya tak 'sebaik' dan sesabar' dua istrinya terdahulu. Hartanya habis dalam bilangan tahun. Dan... empat tahun kemudian, jabatannya sebagai kepala desa berakhir.

Hidup dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu, wanita muda ini tidak bertahan. Ia memilih pergi meninggalkan si lelaki yang kini tak lagi bisa mencukupi kebutuhannya.

Lantas, seperti roda... hidup berputar. Allah terus memperjalankan takdirnya yang tak terkata namun bagian dari hal paling tetap dan niscaya. Bukan karma. Lelaki ini menjalani hidupnya sendiri, menjadi buruh tani -karena sawahnya telah habis terjual-dan tinggal di kesunyian rumahnya: tanpa anak dan istri.

Sementara istrinya -si wanita ini-mulai merasai kebahagiaan dari hidup yang lebih layak, riang dipenuhi jeritan manja cucu-cucu dan rengekan mereka.

Maka, meradanglah si lelaki saat anak-anaknya berniat membangun sebuah rumah untuk ibunya karena rumah yang kemarin rubuh. Tak hanya fitnah, teror pun dilangsungkan. Anak-anaknya tak menyerah, tetap berusaha membangun rumah itu karena memang sudah tidak bisa ditunda lagi. Dulu mereka menahan-nahan niat tersebut selama bertahun-tahun, dan sekarang tak bisa lagi.

Tersebutlah, di suatu malam, si wanita -istrinya yang telah ditelantarkan itu-mendengar suara berisik ayam-ayam di kandang. Berjingkat, ia membuka pintu belakang rumah. Masih sempat sekilas ia melihat suaminya menaburkan sesuatu di sudut luar rumah. Kendati dalam remang, ia masih bisa mengenali bahwa sosok itu adalah suaminya.

Paginya, tiba-tiba ia lumpuh. Tubuhnya lemah dan tak bisa berdiri. Orang-orang menduga itu teluh. Setelah dirawat beberapa saat di RS, alhamdulillah ia sembuh.

Teror tak berhenti. Suaminya, secara terbuka, mendoakan agar kayu-kayu rumahnya keropos dimakan rayap. Dan doanya terkabul, tapi kali ini bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Beberapa waktu kemudian ia mengancam akan membakar rumah itu, dan sekali lagi, rencana itu -kendati bukan dia-terlaksana. Juga bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Karena lupa memadamkan api di tungku, rumah belakangnya terbakar.

Itu semua belum berakhir. Dalam kesendirian yang diliputi rasa dengki dan iri, ia mendoakan agar si wanita ini diserang penyakit. Dan lagi.... doanya terkabul, juga bukan untuk si wanita, tapi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, orang-orang menemukan lelaki itu tak bisa bicara dan sebelah tubuhnya lumpuh. Ia terserang stroke untuk pertama kali yang sekaligus masuk dalam stadium kritis.

Anak-anaknya membawanya ke rumah sakit.

Dan... kejadian hari itu adalah bak sebuah drama nyata. Sebuah babak yang luar biasa indah saat si wanita -dengan langkah ragu dan bergetar, sebagian oleh sisa perjalanan yang membuatnya mabuk darat-menjenguk bekas suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ada pancaran iba dan kasih yang tulus saat ia meraba, mengusap, dan bertanya tentang kabar dengan terbata-bata. Mesra sekali saat ia memijit kaki lelaki itu.

“Piye rasane, Mbah?” tanyanya dengan panggilan mesra. Mbah? Aduhai, nyaman sekali. Saat belum punya anak, ia memanggil lelaki ini dengan sebutan 'Kakang,' saat sudah punya anak dengan sebutan 'Pak', dan saat telah dianugerahi cucu demikian banyak, ia memanggilnya 'Mbah'

Gemetar, tangan kiri lelaki ini -karena tubuh bagian kanannya lumpuh-menggenggam tangan renta yang mengusap keningnya, seakan ia menikmati belaian lembut tersebut dan menahannya sesaat agar jangan terlalu cepat sirna. Kendati pandangannya dibuang ke sisi lain menghindari wajah -bekas-istrinya ini, ia tak bisa mengingkari ada lautan maaf dan cinta yang telah menggelombanginya.

Melihatnya, saya tak kuasa menahan isak. Seperti lelaki itu, tangis saya cekat di kerongkongan sementara air mata sudah berbondog-bondong menitik tanpa bisa dicegah lagi. Sesak sekali dada saya oleh rasa haru yang menekan-nekan.

Ya... melihat wanita ini, saya seperti tenggelam dalam laut kesabaran. Dan... dialah wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini. Dia... tak lain adalah ibu saya.

Ya Allah... ampunilah dosanya, maafkanlah kesalahannya dan kasihilah dia sebagaimana ia mengasihi kami dalam suka dan duka.



SAAT CORETAN TERGORES AIR MATAKU BERCUCURAN.....SAAT KUBACA LAGI AIR MATAKU MENGALIR KEMBALI.....
IBU....SAAT AKU SAKIT DENGAN SABARNYA KAU MERAWATKU ....
TAPI SAAT KAU SAKIT KADANG AKU MENGHIRAUKANMU....
TAK BISA KU BAYANGKAN DOSAKU YANG MENUMPUK TINGGI...
KAU TAK PERNAH MENGELUH MENGHADAPI ANAK-ANAKMU...
MAAFKAN SEMUA KESALAHAN KAMI IBU.......DIHATIMU AKU BERLINDUNG....DITANGANMU JIWAKU TENANG....DIMULUTMU DOAMU MENENANGKANKU....SEMBAH SUJUD BUAT IBU.....
Read more: http://yudayudawan.blogspot.com/2011/08/blog-widget-burung-terbang-twitter.html#ixzz1k3TQagZu