Untuk yang belum dan yang akan mengalami
untuk berbuat lebih baik dan lebih baik kepada sang ayah
ketika ayah akan pergi
kita boleh bersedih dan boleh menangisi
kita jauhkan diri dari meratapi
ketika kita bersama
tidak pernah ada waktu untuk saling menyatu
dalam pikir
dalam cinta
dalam duka
Ayah aku tak mampu
melukis gambaran ditimu
maafkanlah !
Pagi telah bangun dari tidurnya. sang mentaripun mulai merangkak pertanda sang dewi malam telah pergi. Kabut tebal yang menyelimuti pagi perlahan mulai hilang. cakrawala biru yang membentang luas tetap setia memayungi bumi. Sinar suryapun mulai menghangatkan bumi menggugah makhluk Allah untuk memulai aktifitasnya kembali. Pohon sengon yang berjajar rapi disepanjang jalan menambah kesegaran hidup. angin yang bertiup menambah sejuknya hari dengan diiringi nyanyian burung menambah kerinduan para perantau yang ingin kembali.
Jatara atau singkatan dari jambon utara. Pasara prambanan dikabupaten sleman seakan makin ramai dan tak pernah mati.semyum ramah para penduduk dan kehidupan yang religious semakin menambah kerinduannya hati ini.aktifitas penduduk yang tiada henti seolah tak kenal lelah melawan hari. Letaknya yang tak begitu jauh dari jantung kabupaten membuatnya selalu ramai dari aktifitas. Perdagangan yang semakin hiruk pikuk dari hari kehari seiring dengan perkembangan sebuah kabupaten kecil yang miskin akan sumber daya, tetapi tetap kaya akan kebersahajaan penduduknya. Berhartakan bukit dan gunung berapi yang selalu gagah dipandang mata dan akan membuat geger penduduk kala sedang mengeluarkan lelehan lava panas dan mengepulkan awan panas atau yang sering disebut wedus gembel. Begitulah penduduk jambon menyebutnya, serta kali gendol yang menjadi lahan emas para penduduk untuk mengeruk harta kekayaan yaitu pasir hitam yang sangat bagus untuk bahan material bangunan.
Sepuluh tahun. Butuh waktu selama itu untuk menjejakkan kakiku kembali didesa kelahiran sekaligus kebanggaanku. Sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati diri yang hakiki. Mencari sebuah cita-cita dan menjadi manusia yang berharga. Tak sekedar lahir, besar dan mati disebuah dusun bernama jambon. Aku tak ingin menjadi manusia manja dan tak maju. Sebuah keinginan yang kuat untuk maju bagi seorang remaja berusia tujuh belas tahun kala itu. Berawal dari keributan antara aku dan bapakku, aku memutuskan untuk pergi dari desa kecil ini. Bapakku terlalu disiplin dan tidak pernah memberikan kebebasan bagi bagi anak-anaknya untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Itulah yang mendorong keinginanku untuk meninggalkan rumah ini. Bisa dikatakan harus selalu menuruti kata-kata bapak. “makan nggak makan yang penting kumpul “ itulah semboyan hidup orang tua zaman dulu yang selalu aku tentang. Semua kakakku rela tinggal di kampong kecil ini dan entah apa yang akan terjadi dengan masa depan mereka. Mereka lebih memilih menuruti kata-kata bapak dan rela melepaskan cita-cita mereka.
“kamu ini mau apa, selalu menentang kata-kata bapakmu ini!”. Bentak bapakku kala itu.
“Pak, aku harus pergi, aku tidak mau menjadi manusia yang kurang dihargai dan hidup miskin tanpa masa depan yang jelas. Percuma pak, aku sekolah kalau aku tak bisa mencapai cita-cita yang kuinginkan!” balasku tak kalah kerasnya.
“o……oh jadi sekarang kamu sudah berani menenang kata-kata orang tua,kamu sudah bisa mengatur hidupmu sendiri tanpa bantuan orang tuamu lagi? Terserah sekarang kamu mau pergi kemana, ya sudah pergi sana dan jangan pernah kamu menginjakkan kakimu untuk kembali kerumah ini lagi, cari apa yang kau sebut dengan cita-cita. Dasar anak tak tau diri! Bentak bapakkau yang kali ini lebih keras.
Bagai disambar petir jiwa ini mendengar kata-kata bapak barusan. Ibuku hanya membisu dan minitikan air mata melihat pertengkaran kami. Beliau tak berani melerai kami, karena ibuku sangat patuh pada bapak.
“ Iya pak aku tak akan pernah maju kalau aku harus tetap tinggal di desa kecil ini. Kalau bapak maunya itu, iya pak aku tak akan menginjakkan kakiku lagi kerumah ini sebelum aku buktikan kata –kataku, aku tak mau menuruti tradisi kolot yang hanya mengekang jiwa ini untuk maju.”
Plak…plak… 2 kali bapak menampar wajahku dan tanpa mengucap sepatah katapun aku lalu meninggalkan bapak menuju kamar dan langsung mengemasi barang-barangku. Kulihat bapak sedikit menyesal dengan menamparku terlihat dari raut wajahnya.
Aku tetap memutuskan untuk pergi, walau semua menentang. Semua marah dan menangis dengan perlakuanku kala itu. Tak ada yang berani menentang bapak selain aku.
TuhankuSungguh telah Engkau lihat
Bahwa aku datang kepada-Mu
hanya karena pengharapan.
Berpegang pada rumbai dan ujung-ujung tali
pengampunan-Mu
Ketika dosa-dosaku telah mengusirku
dari rumah kedamaian
Tuhanku
Aku mengetuk pada pintu rahmat-Mu
dengan tangan harapku
lari kepada-Mu mencari perlindungan
dari hawa nafsuku yang berlebihan
Untuk menaruh jari-jari cintaku ke ujung tali-tali-Mu
maka ampunilah dosaku, dari segala kesombongan
dan kekeliruan yang telah ku perbuat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar