Siluet Hidup


Hidup terasa indah justru ketika kita mampu keluar dari permainan yang penuh dengan resiko sebagai pemenang
Memanfaatkan waktu dan menikmatinya akan mendorong sang pemberani untuk tampil kemuka...apapun resikonya
Tidak ada satu gerakpun dimuka bumi ini tanpa resiko
Mereka yang mencoba menghindari resiko adalah manusia pengecut yang yang melawan fitrah alamiah

You will grow to love the wordly life and hate death







Sabtu, 07 Januari 2012

MY CERPEN ” SEPOTONG HATI UNTUK BAPAK “


Untuk yang belum dan yang akan mengalami
untuk berbuat lebih baik dan lebih baik kepada sang ayah
ketika ayah akan pergi
kita boleh bersedih dan boleh menangisi
kita jauhkan diri dari meratapi

ketika kita bersama
tidak  pernah ada waktu untuk saling menyatu
dalam pikir
dalam cinta
dalam duka
Ayah aku tak mampu
melukis gambaran ditimu
maafkanlah !

        Pagi telah bangun dari tidurnya. sang mentaripun mulai merangkak pertanda sang dewi malam telah pergi. Kabut tebal yang menyelimuti pagi perlahan mulai hilang. cakrawala biru yang membentang luas tetap setia memayungi bumi. Sinar suryapun mulai menghangatkan bumi menggugah makhluk Allah untuk memulai aktifitasnya kembali. Pohon sengon yang berjajar rapi disepanjang jalan menambah kesegaran hidup. angin yang bertiup menambah sejuknya hari dengan diiringi nyanyian burung menambah kerinduan para perantau yang ingin kembali.

Jatara atau singkatan dari jambon utara. Pasara prambanan dikabupaten sleman seakan makin ramai dan tak pernah mati.semyum ramah para penduduk dan kehidupan yang religious semakin menambah kerinduannya hati ini.aktifitas penduduk yang tiada henti seolah tak kenal lelah melawan hari. Letaknya yang tak begitu jauh dari jantung kabupaten membuatnya selalu ramai dari aktifitas. Perdagangan yang semakin hiruk pikuk dari hari kehari seiring dengan perkembangan sebuah kabupaten kecil yang miskin akan sumber daya, tetapi tetap kaya akan kebersahajaan penduduknya. Berhartakan bukit dan gunung berapi yang selalu gagah dipandang mata dan akan membuat geger penduduk kala sedang mengeluarkan lelehan lava panas dan mengepulkan awan panas atau yang sering disebut wedus gembel. Begitulah penduduk jambon menyebutnya, serta kali gendol yang menjadi lahan emas para penduduk untuk mengeruk harta kekayaan yaitu pasir hitam yang sangat bagus untuk bahan material bangunan.

Sepuluh tahun. Butuh waktu selama itu untuk menjejakkan kakiku kembali didesa kelahiran sekaligus kebanggaanku. Sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati diri yang hakiki. Mencari sebuah cita-cita dan menjadi manusia yang berharga. Tak sekedar lahir, besar dan mati disebuah dusun bernama jambon. Aku tak ingin menjadi manusia manja dan tak maju. Sebuah keinginan yang kuat untuk maju bagi seorang remaja berusia tujuh belas tahun kala itu. Berawal dari keributan antara aku dan bapakku, aku memutuskan untuk pergi dari desa kecil ini. Bapakku terlalu disiplin dan tidak pernah memberikan kebebasan bagi bagi anak-anaknya untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Itulah yang mendorong keinginanku untuk meninggalkan rumah ini. Bisa dikatakan harus selalu menuruti kata-kata bapak. “makan nggak makan yang penting kumpul “ itulah semboyan hidup orang tua zaman dulu yang selalu aku tentang. Semua kakakku rela tinggal di kampong kecil ini dan entah apa yang akan terjadi dengan masa depan mereka. Mereka lebih memilih menuruti kata-kata bapak dan rela melepaskan cita-cita mereka.

“kamu ini mau apa, selalu menentang kata-kata bapakmu ini!”. Bentak bapakku kala itu.

“Pak, aku harus pergi, aku tidak mau menjadi manusia yang kurang dihargai dan hidup miskin tanpa masa depan yang jelas. Percuma pak, aku sekolah kalau aku tak bisa mencapai cita-cita yang kuinginkan!” balasku tak kalah kerasnya.

“o……oh jadi sekarang kamu sudah berani menenang kata-kata orang tua,kamu sudah bisa mengatur hidupmu sendiri tanpa bantuan orang tuamu lagi? Terserah sekarang kamu mau pergi kemana, ya sudah pergi sana dan jangan pernah kamu menginjakkan kakimu untuk kembali kerumah ini lagi, cari apa yang kau sebut dengan cita-cita. Dasar anak tak tau diri! Bentak bapakkau yang kali ini lebih keras.

Bagai disambar petir jiwa ini  mendengar kata-kata bapak barusan. Ibuku hanya membisu dan minitikan air mata melihat pertengkaran kami. Beliau tak berani melerai kami, karena ibuku sangat patuh pada bapak.

“ Iya pak aku tak akan pernah maju kalau aku harus tetap tinggal di desa kecil ini. Kalau bapak maunya itu, iya pak aku tak akan menginjakkan kakiku lagi kerumah ini sebelum aku buktikan kata –kataku, aku tak mau menuruti tradisi kolot yang hanya mengekang jiwa ini untuk maju.”

Plak…plak… 2 kali bapak menampar wajahku dan tanpa mengucap sepatah katapun aku lalu meninggalkan bapak menuju kamar dan langsung mengemasi barang-barangku. Kulihat bapak sedikit menyesal dengan menamparku terlihat dari raut wajahnya.

Aku tetap memutuskan untuk pergi, walau semua menentang. Semua marah dan menangis dengan perlakuanku kala itu. Tak ada yang berani menentang bapak selain aku.

Tuhanku
Sungguh telah Engkau lihat
Bahwa aku datang kepada-Mu
hanya karena pengharapan.
Berpegang pada rumbai dan ujung-ujung tali
pengampunan-Mu
Ketika dosa-dosaku telah mengusirku
dari rumah kedamaian
Tuhanku
Aku mengetuk pada pintu rahmat-Mu
dengan tangan harapku
lari kepada-Mu mencari perlindungan
dari hawa nafsuku yang berlebihan
Untuk menaruh jari-jari cintaku ke ujung tali-tali-Mu
maka ampunilah dosaku, dari segala kesombongan
dan kekeliruan yang telah ku perbuat

“Ya Allah… durhakakah aku ini ya Allah. Tak terasa butiran air mataku tumpah tak terbendung saat aku berpamitan dengan ibuku. Ibu yang selalu sabar merawatku dan aku belum bisa membalas jasa-jasanya. Semua kakakku diam bagai patung termasuk adikku saat aku berpamitan dengan mereka.betapa nekadnya diriku ini. Bapak hanya diam dan matanya berkaca-kaca menatap wajahku.

“ Pak… Joko mohon diri pak. Aku ingin membuktikan perkataanku dan aku tak akan kembali sebelum berhasil.” Bapak memalingkan muka seolah tak merestui kepergianku

“Bu… aku mohon diri, doakan anakmu agar berhasil  dan supaya aku bisa membalas semua pengorbananmu bu”. Ibu hanya  bisa menitikan air mata.

“Apakah kamu sudah memikirkan masak-maska nak, untuk meninggalkan rumah ini?”sambil menahan tangis ibu menyelipkan beberapa lembar uang yang telah lusuh disaku jaketku.

“Ibu selalu berdoa nak, semoga engkau kembali secepatnya dan membawa segala mimpimu”

Bapakku tak mengucapkan sepatah katapun dengan kepergianku, hanya diam membisu.

Ah Bapak bapaimana kabarmu sekarang?

Tiba-tiba lamunanku buyar ketika seorang tukang ojek menepuk bahuku, masih belum terlalu siang memang jam ditanganku baru menunjukkan pukul enam pagi. Jadi angkutan umum belum beroperasi diwaktu sepagi itu, biasanya angkutan baru beroperasi pukul tujuh. Aku tak menghiraukan tukang ojek itu. Aku masih ingin menikmati suasana pagi dengan memandang kemegahan canri prambanan yang menjadi kebanggaan kota ini.

“Mas…Mas.. mau kemana? Ayo naik ojek saya saja” kata tukang ojek itu sambil menarik-narik tanganku, aku hanya tersenyum kecil, segera tukang ojek yang lain bergerombol mengerumuniku adalah hal yang biasa setiap pendatang memang selalu jadi incaran meraka. Lumayan bisa untuk menambah enghasilan, semua berebutan menarikku, ada yang menarik tasku, ada juga yang menarik baju dan tanganku, pokoknya sekenanyalah.

“tahan emosi… jangan marah, bisik  batinku”

“kulo bade wonten jambon, pinten nggih?” tawarku pada mereka’

“Selawe ewu nggih, niku sampun mirah banget lho mas?” Sahut salah  dari satu mereka

“yo ampun larang-larang to mas, kulo tiang mriki lho.” Aku langsung keluarkan jurus mautku, kalau aku bilang asli sini biasanya harganya akan lebih murah.

“Gangsalswelas ewu nggih  mas?” jawabnya lagi

|”Kuwi tekan Jambon to mas?” tanya aku lagi

“Nggih…! Ngarep omah.” Kata tukang ojek itu menyakinkanku. Aku sedikit kaget dan langsung mengangguk kalau naik angkot mungkin tak sampai segitu.

“Ya ngak papalah itung-itung bagi-bagi rejeki.” Bisik hatiku.

Sepuluh tahun yang lalu, angkot tak bisa menembus desa kecilku yang luar biasa sepi karena masih banyaknya pohon-pohon besar berdiri gagah dipinggir jalan yang membuat bulu kudukku berdiri kala melewatinya. Adalah hal yang mustahil yang bisa diimpikan kalau ada angkot yang lewat.tak pernah kubayangkan dusun kecil ini telah maju pesat oleh sentuhan modernisasi.

Ah… bapak seandainya dulu dusun kita bisa dilewati oleh kendaraan, kau mungkin tak susah payah mengantar dagangan ibu dengan berjalan kaki. Kau memikul berpuluh kilo sayuran dipundakmu. Dengan kaki gemetar karena beban yang kau pikul begitu berat tanpa alas kaki kau menembus sunyinya jalan dengan pohon-pohon seram dipinggirnya. Jalan yang terjal, sempit berbatu dan akan semakin licin bila hujan datang. Kau tempuh dengan berjam-jam untuk mencapai pasar Prambanan. Semua hanya demi sesuap nasi untuk membesarkan anak-anakmu di tengah pergumulah hidup keras dengan segala keterbatasan sebuah desa miskin. Namun semua itu tak pernah melunturkan tekadmu untuk jadi pohon tempat kami semuanya menyandarkan nafas hidup kami. Aku hampir sampai di desa kelahiranku.

“Mas pegangan yang kuat yam as, di depan jalannya agak sedikit terjal dan manajak.” Kata tukang ojek itu memperingatkanku. Segera aku pegangan tubuh tukang ojek itu dengan erat.

“Ya Allah lindungilah kami, jangan kau jemput dulu jiwaku sebelum kutatap sosok gagah yang selama bertahun-tahun ini jadi sandaran dan panutan hidupku walau hubungan kami kurang harmonis.

Tiba-tiba ojek yang aku naiki mogok dijalan. Tak urung motor yang sedang menaiki tanjakan itu terseret mundur. Aku hampir terjatuh dan taskupun terlempar ke jalan.

“Astaghfirullah…” teriakku, segera tukang ojek itu mengerem motornya dengan kuat-kuat. Hampir saja masuk kali, kataku dalam hati. Tapi Alhamdulillah remnya masih pakem. Dengan sekatan aku meloncat dan menahan motor itu. Ahhhh.,.. aku menarik nafas lega. Allah Maha Besar, sungguh. Segera tukang ojek itu berhenti dan memeriksa motornya.

“Kenapa mas motornya?” tanyaku

“Mungkin businya kotor kali mas” jawab tukang ojek itu.

“Tunggu sebentar yam as, biar kuperiksa dulu motornya.” Kata tukang ojek itu memperbaiki motornya sambil memandang sekeliling jalan yang penuh dengan rimbunan pohon bamboo. Aku agak sedikit merinding karena motornya mogok tepat didepan kuburan. Tak berapa lama tukang ojek itu memanggilku.

“Ayo mas sudah betul nih motornya.” Kata tukang ojek itu.

“Oh … ya mas” jawabku

Motor bergerak lamban munuju desa Joholanang dan setelah melaju beberaa menit ojek itu bergerak memasuki desa Pandean.

Di desa Pandean inilah dulu satu-satunya terletak SD disekitar daerahku. Agak jauh memang dari desaku. Tapi aku dulu sekolah SD ini dengan berjalan kaki. Aku termasuk anak yang paling ngotot untuk tetap sekolah, walaupun agak ada sedikit tentangan dari orang tuaku. Tapi aku tetap nekad.

Yah… dengan keterbatasan yang harus ku telan. Maklumlah untuk makan saja sering kesusahan. Tak jarang kami makan nasi sekali dalam sehari. Tak ernah ada cukup sisa tenaga untuk memikirkan sekolah. Aku berangkat setelah sholat subuh dalam keadaan pagi yang masih gulita dank abut tebal yang menyelimuti pagi, berbekal obor bamboo dna baru pulanh kembali jam tiga sore, itupun aku harus mencari buah melinjo terlebih dahulku untuk dijual ke pasar demi kelangsungan sekolahku.

Tanpa kusadari ojek sudah samau di depan rumah. “Bapak… Ibu… Joko pulang.” rumahku sudah banyak berubah, pohon jambu air yang sering aku panjat dulu sudah berganti dengan pohon rambutan, bilik bambu sudah berganti tembok semen. Haluan rumah pun sudah berubah, bahkan ada kolam ikan didepan rumahku. Orang-orang desa yang kebetulan lewat manatap heran padaku.

Dari dalam muncul wanita berkebaya dengan rambut hampir semuanya memituh dengan guratan-guratan yang ada diwajahnya menandakan bahwa usianya sudah menua, itulah ibuku. Beliau masih kelihatan cantik walau uban telah menghiasi kepalanya. Wajahnya yang selalu tenang dengan khasnya yang tak pernah kulupakan. Wanita tegar yang telah berjuang bersama baak membesarkan anak-anaknya. Beliaulah ibuku yang menawan. Aku langsung berlari menubruk tubuh ibuku. Tak kuhiraukan rasa penat dan lelah yang menghajar tubuhku. Tak bisa kulikiskan perasaan bahagiaku.

“Joko… Joko itu kamu to Le?” kata ibuku dengan penuh rasa haru. “Akhirnya kamu pulang juga, ibu kangen banget Le sama kamu.”

Air matanya tak terbendung lagi menahan kerinduan sambil memelukku.

“Maafkan Joko Bu… Joko salah.” Ibu semakin erat memelukku, membelaiku dan manatapku lama.

“Kamu sudah banyak berubah Le.” Sambil menuntunku masuk ke rumah. Sampai di dalam kuperhatikan seisi rumahku dan aku agak sedikit kaget ketika melihat anak kecil sedang bermain. Rupanya ibuku sudah bisa menebak pikiranku.

“Kamu heran ya?” tanya ibuku dan aku hanya  mengangguk. “itu Kelik anaknya mbakyumu dan kalau yang satunya Anto anaknya masmu. Kamu ingatkan Anto yang sering kamu gendong dulu.”

“Astaga… sudah sebesar ini Anto. Kalau yang satunya siapa Bu?” tanyaku.

“Kalau yang satu itu Tutik anaknya adikmu Surti.”

“Ya Allah Surti sudah nikah Bu?” tanyaku heran

Aku memang pantas hean, kerana selama sepuluh tahun tahun ini aku tak pernah berhubungan dengan keluargaku, aku jadi malu sudah setua ini belum juga nikah.

“Lha kalau istrimu mana Le?”tanya ibuku.

“Istri dari mana BU.. calon saja belum punya.” Jawabku malu

“Bapak?” Aku bertanya singkat

“Bapak mana Bu?” tanyaku lagi

“Bapakmu masih di musola le”

Semenjak kepergianmu bapakmu banyak berubah. Dia jadi sangat lama kalau lagi di mushola, mungkin merasa bersalah kali ya le? Tanya ibuku. Aku diam tak menjawab.

“Habis dari mushola biasanya bapakmu langsung ke sawah lihat tanaman di sana.” Ibuku menjelaskan.

“Bapak sekarang masih suka nyari pasir Bu? Tanyaku lagi.

“Lha iyalah Le, mau usaha apa lagi lha wong Cuma itu yang bisa dicari.” Ucap ibuku lirih sambil memijit-mijitku. Kata-kata ibuku seolah menampar batinku. “sudah setua ini bapak masih menggali pasir, selama ini kemana saja aku ini?” membiarkan bapakku yang sudah renta menggali pasir berusaha mencari makan sendiri.

“Sholat dhuha dulu Le, makan lalu menyusul bapakmu ke sawah.”

Ibuku lalu menyuruh adikku mengangkat tas bawaanku, dengan wajah kesal ia turuti saja perintah ibu. Adikku ini memang paling karah ketika aku pergi. Walay kala itu dia masih muda dan belum mengerti apa-apa.

“Maafkan aku Surti.” Kata dalam hatiku.

Selesai sholat aku langsung bergegas berangkat ke sawah menyusul bapakku. Sebuah sawah kecil yangh menjadi tumpuan hidup keluarga kami. Dimataku bapak memang tipe orang yang suka bekerja keras. Bahkan terlalu keras. Bapak seolah tak pernah memperdulikan pada tubuh dan kesehatannya. Bahkan dalam keadaan sakitpun beliau teta berusaha untuk bekerja. Dalam pikirannya keluargaku harus hidup. Walau untuk itu bapak harus bekerja keras diluar batas kemampuan tubuhnya. Pergi subuh pulang malam, begitulah yang aku saksikan sampai aku berumur tujuh belas tahun. Perjalanan sawah dari rumah bisa bapak tempuh dalam lima belas menit. Berjalan tanpa alas kaki, bapak jarang istirahat, satu pekerjaan selesai langsung mengerjakan pekerjaan yang lain. Sebuah rutinitas melelahkan yang mungkin bagi sebagaian orang tak sanggup menjalankannya selama beruluh-puluh tahun.

Ketika sampai disawah kulihat bapak sedang mengerjakan sholat dhuha dengan khusuknya. Seletihdan sesibuk apapun bapak tak pernah lupa pada Sang Maha Pencipta. Hanya pada saat ini bisa kulihat wajah bapak yang tenang.

Ah… Bapak. Joko tak pernah berhenti mengagumi bapak. Bapak yang begitu teguh dengan pendirian dan bapak yang begitu disiplin. Setelah bapak selesai sholat, aku lalu bergegas menghampiri beliau walau agak ragu apakah bapak masih mau memaafkanku. Aku langsung mencium tangan beliau dan bersimpuh dikakinya aku hanya bisa menangis.

“Pak… maafkan Joko Pak.” Kataku sambil terisah menahan tangis. Tangan bapak yang dulu kekar kini lemah dan ada goresan luka di sana sini. Begitu ketengadakan kepala, kulihat kelopak mata bapak tergenang air mata. Bapak yang setahuku tegar, yang selalu menyimpan letihnya sendiri, yang tak pernah mengeluh, yang selalu tabah dalam hidup walau sangat sulit sekalipun. Kini menangis.

“Bapak mau marah lagi sama Joko mau tampar Joko atau entah apapun yang ingin bapak lakukan, silahkan Pak,Joko ikhlas Pak.”

Aku menghiba agar bapak bisa menumpahkan kemarahannya yang sudah beliau pendam selama bertahun-tahun.

“Bapak tahu Le, kamu pasti kembali, maafkan bapak juga ya le, yang dulu pernah mengusir kamu. Bapak menyesal Le.” Katanya sambil terisak.

Sungguh pertemuan yang sangat mengharukan dan tak bisa terlukiskan. Kuperhatikan bapak dengan seksama. Rambutnya yang dulu hitam lebat kini berubah putih, bahunya yang dulu tegap kini terbungkuk. Tubuhnya yang dulu kekar kini ringkih. Bapak, betapa sudah terlalu rentanya bapak diusianya yang sudah separuh abad lebih, begitu banyak derita yang terlukiskan diguratan-guratan wajahmu.

“Bapak kenapa nggak marah sama Joko Pak?” tanyaku heran.

“Bapak sudah tidak berhak marah le, hidupmu , kamu sendiri yang memperjuangkannya, bapak hanya punya tugas membesarkanmu. Kamju selamat dan bisa pulang walau dengan atau tanpa cita-citamu bapak sudah senang le. Bapak lalu memelukku dan membelai rambutku.

“le… Bapak sudah dapat cucu berapa?” tanya bapakku.

“Joko belum kawin Pak, nunggu bisa tegak dan mendapat restu dari Bapak.”

Aku tersenyum sambil mengusap sisa air mataku. Bapak sedikit kaget.

“Bapak… Joko pulang dengan membawa mimi Joko yang pernah Joko janjikan dulu.” Kataku sambil menjejeri duduk bapak.

“mimpi apa?” tanya bapak heran.

“Bapak dan ibukan dulu pernah bilang kalau ingin sekali menginjakkan kaki ke tanah suci, sebelum ajal menjelang?” kataku sambil tersenyum. Bapak sedikit kaget.

“Joko di Jakarta usaha kecil-kecilan Pak. Yah lumayan Joko bisa menabung walaupun sedikit.

“Nanti Bapak pergi melihat Kakbah sama ibu ya Pak.

Bapak hanya bisa bengong dan air matanya tumpah kembali mendengar perkataanku barusan. Lalu aku diperluknya erat dan mengatakan betapa bahagianya beliau.

“Sungguh Pak ini tetap tak bisa menebus kesalahan anakmu yang telah menelantarkanmu selama bertahun-tahun. Bapak yang dulu berkorban demi apa saja untuk keluarga.

“Joko anakmu dengan atau tanpa apapun., bapak akan tetap memaafkanmu le, kamu benar kamu membuktikan mimpimu. Bapak sangat bangga padamu le. Kata bapakku sambil terisak.

Bagiku bapak adalah pahlawan yang paling nyata dalam hidupku walaupun dalam keadaan apapun. “Pak sekali lagi maafkan anakmu Pak. Andai hati ini bisa kupotong, aku akan mempersembahakan padamu demi kesalahanku.

air mataku untukmu Bapak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Read more: http://yudayudawan.blogspot.com/2011/08/blog-widget-burung-terbang-twitter.html#ixzz1k3TQagZu