Saat kakiku mulai berani melangkah menuju gerbang istana, aku baru sadar inikah istana yang sesungguhnya atau hanya fatamorgana yang nyata ? kawanku yang memperkenalkanku dengan perkumpulan ini mengatakan.” Usman, kita harus berani melangkahkan kaki kita dan menepiskan fatamorgana yang akan mengganggu perjalanan kita menuju istana yang sesungguhnya.ini semuanya ada rangkainnya dengan masa kecil kita, bagaimana orang tua mempersiapkan generasii baru yang berani, generasi yang kuat dan mempunyai kesempatan yang sama untuk baik dan jelek, untuk menjadi pemenang atau pecundang, semuanya tergantung bagaimana lingkungan membentuk diri kita, dan lingkungan primer yang diinternalisasikan oleh kita sebagai manusia. Perkumpulan kita memang masih muda man, saya tahu masa muda adalah masa yang paling kritis. Setelah dewasa, maka factor lingkungan kerja( work condition,leadership style ) akan membentuk persepsi diri yang baru sebagai modal dasar diri kita mengembangkan caranya mengambil keputusan. Itulah sebabnya kawan, tidak ada rumus yang paling baik untuk saat ini, kecuali kita semua setiap individu mendai virus-virus yang menyebarkan gairah prestatif, mulai sekarang, bahkan seharusnya sejak kemarin.” “ Bagaimana man ? apakah kamu sudah pernah berpikir tentang ini ? Aku menganggukkan kepalaku.” Kamu benar mas, jika kita ingin mengetahui hak-hak kita, kita harus berani mengambil keputusan dan berani melangkah. “kapanpun aku siap mas.”jawabku dengan penuh semangat. “ kalau saya tidak siap dari sekarang kapan saya bisa menjawab tantangan zaman mas….he..he..he…” Dengan senyum tipis mas fakih menonjokkan kepalan tangannya dipunggungku. “ Kamu bisa saja man” Sambil membolak-balikkan buku yang sudah berkali-kali aku baca, aku mencoretkan renungan yang mengganjal dipikiranku.kita hanya tahu potongan dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar.janagn terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.kalau kita melandaskan kesimpulan kita hanya pada apa yang terlihat, dunia akan terlihat begitu sempit dan tindakan-tindakan kita bakal terbatas hanya pada kesimpulan yang premature itu. Kalau kita mampu melihat lebih dalam, dunia akan terasa lebih luas, hidup akan terasa lebih mudah. Karena terdapat jutaan kemungkinan yang bisa disimpulkan dari setiap kejadian di dunia ini.terkadang apa yang terlihat oleh indera kita bukanlah apa yang benar-benar terjadi.huhhhhhhh………….sepenggal kalimat ini membuat gairah semangatku bangkit kembali. Aku teringat apa yang dikatakan mas fakih tempo hari……aku akan diajak belajar melangkah mengetahui arti perjuangan dalam mengangkat hak-hak jiwa yang tertindas. Hari ini tanggal 30 April dan besok waktunya melangkahkan kaki ini untuk menginjak lantai istana yang katanya hasil karya rakyat. Mungkin malam ini malam yang paling sibuk yang harus dijalani untuk membuat schedule rencana maju membuka pintu istana. Seandainya bisa tetap tenang menghadapi keterpurukan bangsa ini, sebenarnya kita masih punya titik terang. Jangan tergoyahkan oleh hal-hal yang menyesatkan. Orang-orang sukses selalu melawan kekalahan dan kesengsaraan tanpa pernah kenal menyerah dan kecewa.hmmmm……impian keberhasilan itu harus tetap tersimpan aman dalam pikiran, untuk menunggu saat yang tepat untuk diwujudkan, karena sebenarnya Indonesian adalah bangsa yang besar. Apakah kita bisa berlabuh diistana jika kita tak berani untuk membuka pintunya ? hanya semangat dari jiwa, jika kita ingin menyentuh pintunya. Sekilas ada pertanyaan yang timbul dari hati. Apakah aku akan menunda aktifitas di hari ini karena takut akan kedatangan hari esok, ataukah aku akan berbahagia menjalani hari ini karena impian akan indahnya hari esok ? Haruskah aku bersedih hari ini karena apa yang sudah terjadi pada masa lalu, padahal masa lalu sudah berlalu dan tidak akan bisa ditarik kembali. Apakah waktu aku bangun pagi, sudah bertekad untuk menggunakan waktu 24 jam yang telah diberikan Allah dengan perencanaan yang sebaik-baiknya ? Akankah aku mampu mengambil manfaat dari setiap rangkaian detik kehidupan ini ? Kapan aku akan mulai mengerjakannya ? sekarang ? Besok ? Minggu depan ? Atau hari ini ? Aku ingin terus bermimpi dan berusaha mewujudkan impian itu semaksimal mungkin. Tetap berpikir optimis meskipun seribu masalah menghadang.tetap percaya diri bahwa bisa menjadi lebih baik. sanggup melakukan sesuatu yang besar. Memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin untuk menggapai impian itu. Impian melabuhkan jiwa diistana dan memberikan tempat yang luang untuk semua.
By : Yuda yudawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar