Siluet Hidup


Hidup terasa indah justru ketika kita mampu keluar dari permainan yang penuh dengan resiko sebagai pemenang
Memanfaatkan waktu dan menikmatinya akan mendorong sang pemberani untuk tampil kemuka...apapun resikonya
Tidak ada satu gerakpun dimuka bumi ini tanpa resiko
Mereka yang mencoba menghindari resiko adalah manusia pengecut yang yang melawan fitrah alamiah

You will grow to love the wordly life and hate death







Kamis, 12 Januari 2012

BERLABUH DI ISTANA

Catatan kecil dari sahabat.................... Hmmm……..sekilas gerombolan manusia seolah datang ingin mengoyak kota Jakarta. Satu mei,mungkin sebuah hari kemenangan buruh yang ingin menyampaikan isi hatinya. Bisa dibilang demikian isi hatiku juga. Seolah lelah jiwa ini mendayun perahu tapi tak kunjung sampai didaratan. Mungkin inilah jiwa yang berontak,kemanakah kami akan dibawa wahai penguasa buruh ? kadang redup menatap jalan kedepan, tapi dengan optimis yang tinggi mungkin akan merubah segalanya. Tak terasa sudah hampir lima tahun jiwa ini berjuang untuk  memastikan dimanakah aku akan berlabuh. Kadang ingin rasanya kukepalkan genggaman tangan ini dan kutonjokkan pada rintangan yang menghadang, tapi kenapa selalu ragu untuk melampiaskannya, confuse orang barat bilang.     Malam ini aku butuh refreshing setelah seharian lelah menjamah isi ibu kota, agar semangat kerja tetap terjaga,pikirku. Entah jalan-jalan atau iseng-iseng menggoda anak gadis tetangga demi menghilangkan rasa penat yang menggelayut dipikiran. Aku sangat lelah dengan liku hidup ini. Bila kelelahan seperti ini biasanya aku mengajak temanku untuk merundingkan masa depan. Memang tidak semua orang yang gemar dengan kebiasaan kami, hanya beberapa orang saja dan salah satunya aku. Kadang dengan berkumpul,ada saja yang mencurigai kami, bikin gerombolan serikat tak jelaslah atau kumpulan yang mengusik mereka. Yah………… mungkin hanya dengan ini hati yang resah bisa hengkang walau sesaat. Aku tak menyangka kenapa aku bisa bergabung dengan serikat macam ini. Memang menurut sebagian orang yang punya kuasa ini sangat meresahkan dan mengganggu mereka. Tapi bagi kami ini adalah sebuah hak yang harus ditampilkan dihadapan mereka. Hak manusia yang tidak semestinya terinjak-injak dengan kaki mulus mereka dan dicaci dengan mulut yang katanya orang yang mempunyai wibawa. Bagiku kewibawaan mereka hanyalah memeras keringat yang seharusnya kami tampung untuk membasuh jiwa kami yang lelah.     Kawan yang memperkenalkanku tentang arti dari sebuah serikat adalah fakih, lengkapnya fakih liardi. Ia adalah seorang yang berpengalaman dan lincah juga tegas. Ia berbeda dengan orang-orang yang kukenal pada umumnya. Itu menurutku,tapi menurut orang lain aku tak tahu dan juga tak mau tahu. Terserahlah apa kata mereka tentang orang yang sangat kukenal ini.ketika aku bertanya apa arti dari kumpulan semacam ini yang bisa mengorbankan diri sendiri, ia menjawab ; untuk membela hak kita dan mengutarakan isi hati kita. Ia juga menceritakan bahwa kita tak seharusnya resah dengan diri kita bila kita bisa dan berani mengangkat hak-hak kita. Jawabannya sangat masuk akal. Sebab jika kita hanya menurut perintah orang yang punya kuasa kita akan semakin terjerumus dalam limbah yang tak berguna dan akhirnya akan dibuang begitu saja.     Aku masih diam. Keinginanku untuk refreshing kini berubah menjadi perasaan yang bagai tersayat-sayat. Perlahan mataku mulai terpejam dan tak terasa aku sudah memasuki samudra mimpi. Jiwa yang layu dan tertatih-tatih seolah sungkan untuk membuka mimpi yang harus aku pegang. Mimpi yang tak ada batas mulaii membangunkan jiwaku menjadi tegak dan tumbuh kembali penuh optimisme. Teringat sebait kalimat yang pernah diutarakan oleh guruku.” Engkau mengarungi samudera dunia, bukan untuk tenggelam terpikat oleh delusi fatamorgana. Kayuhlah biduk kehidupanmu, sebrangi samudera dunia untuk mencapai tujuanmu. Kerahkan seluruh potensimu untuk tetap survive dalam perjuangan menebus badai samudera, sesekali kamu boleh menyelam, tapi ingatlah ! tujuanmu bukan untuk mati karena tenggelam, tetapi tujuanmu yang hakiki adalah mencapai pantai kebahagiaan sebagai ultimate goal dari segala makna yang kamu berikan untuk kehidupanmu dan tujuanmu yang sesungguhnya.” Hmmmm……..sebait kalimat yang membuat optimis untuk mengahadapi masalah setelah kita berani melewati garis perjuangan. Kini aku duduk sambil menuangkan isi hatiku dan kucoretkan diatas lembaran putih untuk mengukir kalimat yang tersimpan dihati. Segalanya akan berjalan lancar jika kita mengikuti arus.kehancuran kepribadian akan terjadi, apabila terjadi paradoks,dimana malam hari kita gelisah dalam kehampaan batin, dan siang hari kita tersungkur sebagai budak yang kehilangan nyali dan dimensi batin.
    Saat kakiku mulai berani melangkah menuju gerbang istana, aku baru sadar inikah istana yang sesungguhnya atau hanya fatamorgana yang nyata ? kawanku yang memperkenalkanku dengan perkumpulan ini mengatakan.” Usman, kita harus berani melangkahkan kaki kita dan menepiskan fatamorgana yang akan mengganggu perjalanan kita menuju istana yang sesungguhnya.ini semuanya ada rangkainnya dengan masa kecil kita, bagaimana orang tua mempersiapkan generasii baru yang berani, generasi yang kuat dan mempunyai kesempatan yang sama untuk baik dan jelek, untuk menjadi pemenang atau pecundang, semuanya tergantung bagaimana lingkungan membentuk diri kita, dan lingkungan primer yang diinternalisasikan oleh kita sebagai manusia. Perkumpulan kita memang masih muda man, saya tahu masa muda adalah masa yang paling kritis. Setelah dewasa, maka factor lingkungan kerja( work condition,leadership style ) akan membentuk persepsi  diri yang baru sebagai modal dasar  diri kita mengembangkan caranya mengambil keputusan. Itulah sebabnya kawan, tidak ada rumus yang paling baik untuk saat ini, kecuali kita semua setiap individu mendai virus-virus yang menyebarkan gairah prestatif, mulai sekarang, bahkan seharusnya sejak kemarin.” “ Bagaimana man ? apakah kamu sudah pernah berpikir tentang ini ? Aku menganggukkan kepalaku.” Kamu benar mas, jika kita ingin mengetahui hak-hak kita, kita harus berani mengambil keputusan dan berani melangkah. “kapanpun aku siap mas.”jawabku dengan penuh semangat. “ kalau saya tidak siap dari sekarang kapan saya bisa menjawab tantangan zaman mas….he..he..he…” Dengan senyum tipis mas fakih menonjokkan kepalan tangannya dipunggungku. “ Kamu bisa saja man”     Sambil membolak-balikkan buku yang sudah berkali-kali aku baca, aku mencoretkan renungan yang mengganjal dipikiranku.kita hanya tahu potongan dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar.janagn terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.kalau kita melandaskan kesimpulan kita hanya pada apa yang terlihat, dunia akan terlihat begitu sempit dan tindakan-tindakan kita bakal terbatas hanya pada kesimpulan yang premature itu. Kalau kita mampu melihat lebih dalam, dunia akan terasa lebih luas, hidup akan terasa lebih mudah. Karena terdapat jutaan kemungkinan yang bisa disimpulkan dari setiap kejadian di dunia ini.terkadang apa yang terlihat oleh indera kita bukanlah apa yang benar-benar terjadi.huhhhhhhh………….sepenggal kalimat ini membuat gairah semangatku bangkit kembali. Aku teringat apa yang dikatakan mas fakih tempo hari……aku akan diajak belajar melangkah mengetahui arti perjuangan dalam mengangkat hak-hak jiwa yang tertindas.     Hari ini tanggal  30 April dan besok waktunya melangkahkan kaki ini untuk menginjak lantai istana yang katanya hasil karya rakyat. Mungkin malam ini malam yang paling sibuk yang harus dijalani untuk membuat schedule rencana maju membuka pintu istana. Seandainya bisa tetap tenang menghadapi keterpurukan bangsa ini, sebenarnya kita masih punya titik terang. Jangan tergoyahkan oleh hal-hal yang menyesatkan. Orang-orang sukses selalu melawan kekalahan dan kesengsaraan tanpa pernah kenal menyerah dan kecewa.hmmmm……impian  keberhasilan itu harus tetap tersimpan aman dalam pikiran, untuk menunggu saat yang tepat untuk diwujudkan, karena sebenarnya Indonesian adalah bangsa yang besar. Apakah kita bisa berlabuh diistana jika kita tak berani untuk membuka pintunya ? hanya semangat dari jiwa, jika kita ingin menyentuh pintunya. Sekilas ada pertanyaan yang timbul dari hati. Apakah aku akan menunda aktifitas di hari ini karena takut akan kedatangan hari esok, ataukah aku akan berbahagia menjalani hari ini karena impian akan indahnya hari esok ? Haruskah aku bersedih hari ini karena apa yang sudah terjadi pada masa lalu, padahal masa lalu sudah berlalu dan tidak akan bisa ditarik kembali. Apakah waktu aku bangun pagi, sudah bertekad untuk menggunakan waktu 24 jam yang telah diberikan Allah dengan perencanaan yang sebaik-baiknya ? Akankah aku mampu mengambil manfaat dari setiap rangkaian detik kehidupan ini ? Kapan aku akan mulai mengerjakannya ? sekarang ? Besok ? Minggu depan ? Atau hari ini ? Aku ingin terus bermimpi dan berusaha mewujudkan impian itu semaksimal mungkin. Tetap berpikir optimis meskipun seribu masalah menghadang.tetap percaya diri bahwa bisa menjadi lebih baik. sanggup melakukan sesuatu yang besar. Memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin untuk menggapai impian itu. Impian melabuhkan jiwa diistana dan memberikan tempat yang luang untuk semua.
By : Yuda yudawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Read more: http://yudayudawan.blogspot.com/2011/08/blog-widget-burung-terbang-twitter.html#ixzz1k3TQagZu