
Ibu menerima dengan sabar dan tenang seolah tidak merasakan kejamnya hidup ini. Senyumannya yang membuat hatiku tenang dan gembira. Tutur katanya lembut tak pernah marah meski aku sebagai anak yang dibilang bandel dan sering melawan perkataanya. Aku anak nomer satu dan mempunyai empat adik yang semuany laki-laki. Sebagi sosok pengganti ayah dan ibu dirumahku, ibu berperan sebagai pahlawan tempat kami menyenderkan hidup. Sebagai pendidik, ibu sadar bahwa menjadi ibu dan ayah tidaklah gampang, apalagi semua anaknya laki-laki. Kadang ingat tentang Ayah, dalam mendidik dan mengembangkan wawasan, beliau sangat memperhatikan pembinaan mental spiritual anak-anaknya. Hmmm….diantaranya dengan memberikan cerita-cerita menarik yang sering disampaikan kepada anak-anaknya. Sayang Ayah meninggalkan kami disaat kami sangat haus dengan pengayomannya,didikannya dan nasehat-nasehatnya. Saat itu aku baru masuk kelas satu SMU dan adikku kelas 2 smp, 6 SD dan dua lagi belum sekolah. Oh….ayah betapa rindunya kami padamu saat kami menatap raut muka ibu. Didikan ibu pada kami hampir sama seperti ayah mendidik kami. Prinsip-prinsip hidup yang berpegang pada kebenaran selalu diutamakan, meskipun kami sering membangkang ibu selalu sabar mendidik kami. Ibu mengajarkan kami bahwa harga mempertahankan kebenaran di tengah masyarakat yang sangat pragmatis, cukup mahal. Bisa jadi, dalam mempertahankan kebenaran tersebut harus dibayar dengan isolasi sebagai masyarkat dilingkungan. Mungkin karena ibu sendirian mendidik kami. Oh ibu….kau harus sabar meghadapi penguasa yang terus menekan.
Aku ingat saat aku sering berantem dengan adikku yang bernama Lius….kadang suka mengejek kalau lius bukan anak ibu, karena namanya yang aneh menurut kami. Lius Agustin partama….hmmm…nama yang menurut kami sangat aneh. Mungkin adikku yang satu ini agak pemarah, sekali marah bukan dengan kata-kata, tapi apapun benda yang ada didekatnya selalu dilempar atau langsung dipukulkan padaku. Yah namanya juga anak kecil,meski sampai menangis kencang, ibu tak pernah marah pada kami. Nasihat atau teguran-teguran ibu selalu disampaikan dengan bijak. Disamping itu, seringkali ibu menyampaikan nasihat-nasihat atas dasar ungkapan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh dunia, itu menurut kami. Aku ingat saat sering membantah nasehat ibu.
“ eh…topic jangan biasakan makan didepan pintu ya…..nanti rizki seret.” Kata ibu padaku.
“ ibu sok tahu….apa hubungannya makan didepan pintu dengan rizki…dasar memang orang tua.”
“ kok kamu bicara begitu sama ibu pik…!” bentak ibu.
“ lagian ibu ada-ada saja menghubungkan makan didepan pintu dengan rizki….dasar aneh.”balasku.
Dan langsung aku buang piring didepan pintu. Dan ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.
Aku diam beberapa hari pada ibu. Ibu selalu menatp wajahku dengan senyum.
Dengan senyum ibu itulah aku sedih, ibu saat ini pastialah sepi. Karena semua anak-anak ibu tidak bersama ibu sekarang. Kalau memikirkan hal itu, aku lantas merasa berdosa meninggalkan ibu. Aku harus meninggalkan ibu demi sepeser uang untuk mengubah kehidupanku. Aku harus berlayar jauh mengelilingi lautan biru. Sedangkan adikku lius menjelajahi kejamnya ibu kotanya Indonesia. Andi meski masih tinggal satu kota dengan ibu tapi jaraknya lumayan jauh dan dia harus setia membela negeri ini sebagai seorang polisi, totok ikut lius ke Jakarta dan sibungsu riki mencari ilmu dibandung. Ditengah lautan inilah mungkin Allah membuka hatiku. Saya sudah minta taubat pada Tuhan, semoga dosa saya diampuni. Aku mohon maaf pada ibu, aku tak tahu bagaimana keadaan ibu saat ini.
Coba saja ibu dulu mau menikah lagi. Aku masih ingat enam bulan setelah Ayah meninggal. Orang yang bernama pak hendi mencoba mendekati ibu.
“ mbak eni wanita yang saya hormati,” katany waktu itu. Ulet dan serius .
“ saya maklum, ketika itu mbak eni menolak. Mungkin karena kuburan mas edi masih basah, tanah belum kering, dan hati duka belum hilang. Kini apa hati duka mbak eni masih membasah ? padahal tanahnya sudah kering ? saat itu ibu diam beberapa saat. Beliau menatap wajah pak hendi. Ia mengelakkan pandang, lalu berkata: “ kagum saya mbak eni mengatur kehidupan ini.”
“ makanya pak hendi cepat-cepat kawin deh,” kata ibu bergurau.
“ yah memang hampir terlambat. Tapi wanita pilihan saya harus wanita serius,” katanya.
“ banyak wanita serius pak “ kata ibu.
“ saya kira wanita yang serius itu, yang keibuan itu, adalah wanita yang pernah menderita dalam hidupnya,” kata pak hendi. Tapi ibu hanya berdiam diri, mungkin karena ada perasaan aneh dihatinya ketika itu,. Tanpa diduga ketika ibu menatap pak hendi, ia berkata pula: “ wanita itu haruslah seorang janda yang keibuan.”
Wajah ibu pucat seketika. Dan untuk menghindarinya ibu berkata: “ maaf pak aku belum masak buat anak-anakku.” Kata ibu sambil masuk. Dan aku langsung buru-buru lari, takut ibu takut aku mendengarkan perbincangan ibu dengan pak hendi kala itu.
Dan esoknya aku Tanya sama ibu.” Bu, apa ibu tidak ingin nikah lagi ..?” tanyaku.
“hmmm…..eh kamu pik….suami ibu Cuma satu….yaitu ayahmu…Muhamad Rafiq”
“ kenapa…..kamu pengen punya ayah lagi ya…?” Tanya ibu sambil tersenyum.
“ enggak bu…Cuma Tanya saja…apa ibu tidak kesepian..?”
“ kan ada kelima jagoanku….nak….”jawab ibu sambil mencubit sayang pipiku.
“ jangan merasa dibebani penderitaan nak,” katanya.
“ setiap penderitaan pasti ada maksud –maksud Tuhan kepada manusia.”
Ohhhh..ibu mungkin kini kau merasa kesepian setelah ditinggal pergi kelima jagoanmu.
Betapa sunyinya dirimu. Oh…ibu makin terasa , perasaan-perasaan rindu mengoyak-ngoyak jiwaku.
Surat buat ibu.
“ oh ibunda sayang…aku masih ingat perkataan ibu waktu aku mau meninggalkan ibu.” Kapan ya ibu bisa mencium ka’bah.” Kata ibu waktu itu. Topic masih sangat ingat itu bu.semoga dengan kepulngan topic. Ibu bisa jalan-jalan dan menghirup aroma wangi dinegeri suci itu bu.Bu saya sudah minta taubat pada Tuhan. Agar dosa ku diampuni-Nya atas sikapku selama ini pada ibu. Siang malam aku selalu berdoa bu agar ibu sehat-sehat dalam lindungan Allah. aku sedih pastilah ibu saat ini sangat sepi,karena anak-anak ibu tidak ada didekat ibu saat ini. Kalau memikirkan hal itu aku selalu merasa berdosa meninggalkan ibu. Aku akan bawa hadiah buat ibu. Aku Saat ini sering menitikkan air mata jika teringat ibu. Bu tahun ini ibu mau kan pergi ketanah suci..? bulan depan aku pulang bu. Sekian dulu bu, kalau aku teruskan juga, hanya rintihan rindu belaka, dan kenangan masa lalu belaka yang akan akuungkapkan di surat ini.
Sembah sujud ananda di kaki ibu,semoga kita semua mendapat surge karena mencintai ibu:
Putramu TOPIK RAFIQ.
Hari ini hari dimana aku akan bertemu ibu. Ijinkan aku mencium kakimu ibu.
“kupandang potret yang lusuh ayah ibuku
Gagah dan cantiik, ayahku tercinta sudah almarhum
Kupandang potret keluarga
Kupandang raut wajahku
Menembus segala ceritera masa lalu, album lama aku buka, dan setiap gambar bercerita bukan bernostalgia, tetapi betapa jiwaku terpana
Waktu telah memburu dan mengukir hidup tanpa rencana
Segala serba mengalir dan bermuara pada satu nama yang sangat akrab tapi selalu lupa untuk disapa
Kematian!
Aku ingin menangkap gejolak batinmu
Tenggelam bersama impianmu tapi aku tak mampu
Bau keringatmu masih akrab
Mendekap
Tubuhmu ringkih
Pikiranmu putih
Pusara tanah kering
Matahari menyengat
Kini aku berdiri jiwaku ma’rifat dalam Doa
Ayah semoga kau selalu tersenyum disana
Setiap pusara adalah ceritera
Ada cinta, derita dan nestapa
Kumpulan pusara adalah kisah
Anak-anak manusia melepas lelah
Keluh kesah
Gelisah kemudian pasrah
“ SEPANGGUL CERITA DARI SAHABATKU, SEMOGA PERJALANAN HAJI IBUMU MABRUR DAN DOA IBUMU TERSIRAM DENGAN SEJUK DIPANGKUAN KUBUR AYAHMU
By: Yuda yudawan soubari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar